Pendidikan Masih Milik Mereka Yang Mampu

 

Kita semua pasti setuju kalau pendidikan itu penting. Bahkan katanya, pendidikan adalah hak semua orang. Tapi, kenyataannya enggak semudah itu. Masih banyak orang di luar sana yang kesulitan buat sekolah, bukan karena mereka malas, tapi karena nggak punya cukup uang atau fasilitas. Jadi meskipun pendidikan dibilang “untuk semua”, nyatanya masih lebih gampang diakses sama mereka yang mampu secara finansial.

Coba aja kita lihat perbedaan antara sekolah di kota dan di desa. Sekolah di kota biasanya udah lengkap ruang kelas nyaman, ada perpustakaan, lab komputer, bahkan internet cepat. Sementara itu, banyak sekolah di daerah pelosok yang masih kekurangan segalanya. Kadang bangunannya udah tua, guru juga kurang, dan fasilitas belajar seadanya. Nggak jarang juga anak- anak di desa harus jalan kaki jauh banget cuma buat sampai ke sekolah.

Selain soal fasilitas, biaya juga jadi masalah besar. Memang sih, sekarang banyak sekolah negeri yang dibilang gratis. Tapi kenyataannya tetap aja ada biaya lain-lain: beli seragam, buku, alat tulis, ongkos transport, bahkan bayar les tambahan. Buat keluarga yang penghasilannya pas- pasan, itu semua jadi beban. Akhirnya, banyak anak dari keluarga kurang mampu yang harus putus sekolah karena orang tuanya nggak sanggup menanggung biaya.

Waktu pandemi kemarin juga makin kelihatan perbedaan ini. Pas semua sekolah pindah ke pembelajaran online, anak-anak dari keluarga mampu bisa tetap belajar lancar dari rumah pakai laptop, internet cepat, ruang belajar nyaman. Tapi anak-anak dari keluarga kurang mampu? Banyak yang nggak punya HP, nggak ada kuota, bahkan harus nebeng Wi-Fi tetangga atau belajar di warung kopi buat cari sinyal. Jelas banget kalau akses ke teknologi itu jadi pembeda besar dalam Pendidikan.

Pemerintah sebenarnya udah bikin program bantuan pendidikan, kayak beasiswa atau bantuan tunai. Tapi sayangnya, kadang program itu nggak nyampe ke yang benar-benar butuh. Bisa karena datanya nggak akurat, bisa juga karena kurang pengawasan. Akibatnya, bantuan malah dinikmati oleh yang seharusnya nggak dapat. Jadi, programnya udah ada, tapi pelaksanaannya masih banyak masalah.

Kalau dilihat dari semua ini, jelas banget kalau pendidikan di Indonesia belum benar-benar merata. Anak-anak dari keluarga kaya punya lebih banyak peluang buat sukses lewat pendidikan, sementara yang kurang mampu harus berjuang keras bahkan untuk hal-hal dasar. Padahal pendidikan itu seharusnya jadi jembatan buat keluar dari kemiskinan, bukan jadi hak eksklusif buat mereka yang punya uang.

Pendidikan itu bukan soal siapa yang punya, tapi soal siapa yang mau belajar. Tapi kalau aksesnya aja udah nggak adil dari awal, gimana bisa semua orang dapat kesempatan yang sama? Semoga ke depan, pemerintah bisa lebih serius memperbaiki sistem ini. Dan kita, sebagai bagian dari masyarakat, juga harus ikut peduli supaya pendidikan benar-benar jadi milik semua orang, bukan cuma mereka yang mampu.


Penulis: Muhammad Yusril

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama