FOMO dan Standar Ganda di Kalangan Gen Z: Warisan Digital dari TikTok

Media sosial fenomena telah mengubah haluan kehidupan sosial dunia global, khususnya generasi Z, generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Salah satu platform yang paling berpengaruh terhadap gaya hidup dan pola berpikir Gen Z adalah TikTok. Dengan algoritma canggih dan konten yang semsera cepat, TikTok berhasil menciptakan fenomena psikologis bernama FOMO (Fear of Missing Out) dan membawa serta standar ganda sosial yang makin hari makin sulit dihindari. Namun, apa yang sebenarnya adalah dampak nyata dari kedua hal tersebut terhadap generasi muda?

TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan; ia telah menjadi pusat tren global, sumber berita, hingga arena aktualisasi diri. Gen Z, yang notabene sangat adaptif terhadap teknologi, menjadi pengguna paling aktif. Di sinilah benih FOMO mulai tumbuh. Ketika seseorang melihat teman-temannya selalu “ikut tren”, mulai dari outfit, liburan, gaya hidup sehat, hingga tantangan viral maka muncul perasaan tertinggal dan takut dianggap tidak relevan. FOMO tidak lagi seputar melewatkan pesta atau acara besar. Sekarang, ia muncul dalam rupa "takut tidak tampil sempurna" di ruang maya. Gen Z merasa perlu selalu mengikuti tren TikTok agar masih dianggap ada. Sayangnya, ritme konten di TikTok sangat mudah berubah dalam beberapa hari, tren dapat basi. Ini menyebabkan banyak orang terjebak dalam lingkaran kecemasan sosial dan tekanan diri yang berulang.

Satu di antara yang lainnya adalah bagaimana TikTok sekaligus memancing dua naratif yang bertolak-belakang: di satu sisi, platform ini memetik cinta diri dan positivitas tubuh, namun di sisi lain, algoritmanya memang terfokus pada konten yang memilki adegan visual yang "idealis" wajah yang rambut, tubuh yang kurus, gaya hidup yang mewah.

Inilah yang menciptakan standar ganda. Gen Z didorong untuk mencintai diri sendiri, tetapi hanya jika mereka sesuai dengan standar estetika yang secara tidak langsung dibentuk oleh algoritma TikTok. Konten yang “cantik” lebih sering muncul di FYP (For You Page), sementara konten jujur dan raw seringkali tenggelam. Akibatnya, pengguna merasa tertekan untuk menampilkan versi terbaik (atau palsu) dari diri mereka, hanya demi diterima. Tak hanya itu, standar ganda ini juga menjangkau isu gender. Misalnya, perempuan yang tampil percaya diri sering kali dicap "haus perhatian", sedangkan pria dengan konten yang sama dipertimbangkan "lucu" atau "percaya diri". Ini adalah wujud penindasan yang tersembunyi dalam algoritma dan komentar pengguna - standar sosial tua yang hidup kembali melalui wajah digital.

FOMO dan ganda standarnya ini tidak hanya mengganggu perasaan sesaat. Banyak penelitian menunjukkan meningkatnya kasus anxiety, depresi, bahkan krisis identitas di kalangan Gen Z yang aktif di media sosial, terutama TikTok. Mereka merasa tidak pernah cukup, tidak pernah lebih baik dari konten kreator lain, dan tidak pernah bisa "catch up" dengan tren yang selalu berubah. Alasnya, algoritma TikTok berfungsi seperti cermin ilusi: ia hanya refleks hal-hal yang kita ingin lihat dan bukan hal-hal yang kita perlukan. Gen Z, yang masih terus mengembangkan identitas diri, berisiko untuk membangun kepribadian semu hanya untuk validasi digital. Ini dapat berpengaruh lambat hari terhadap kepercayaan diri dan stabilitas mental mereka.

Solusi untuk permasalahan ini bukan sepenuhnya "digital detox" atau melarikan diri dari TikTok. Yang lebih berperan adalah mengembangkan kesadaran digital (digital awareness), kemampuan menyaring konten, memahami algoritma, serta mengenali emosi diri. Edukasi terkait media sosial harus dipelajari sejak anak-anak, baik di rumah maupun sekolah. Selain itu, pengguna TikTok terutama Gen Z perlu menyadari bahwa mereka punya kuasa untuk memilih konten, menyukai konten yang autentik, dan mempromosikan keberagaman. Dengan begitu, TikTok bisa menjadi ruang yang lebih sehat, bukan hanya tempat berlomba menjadi sempurna.


Penulis: Syafi'i Ali

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama